www.AlvinAdam.com

Obor Rakyat Indonesia

Kategori

Subcribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

no image

On 4:32 AM

Jadi Cawapres Jokowi, Ma'ruf Amin Silaturahmi Politik ke PKB

Liputan6.com, Jakarta - Didampingi sembilan pimpinan Partai Koalisi Indonesia Kerja, Joko Widodo atau Jokowi yang mengenakan kemeja putih bertuliskan bersih merakyat, kerja nyata, mendeklarasikan diri sebagai capres-cawapres bersama Ma'ruf Amin.

Seperti ditayangkan Liputan6 SCTV, Sabtu (11/8/2018), diiringi para relawan dan pendukung, keduanya menuju KPU untuk mendaftarkan diri sebagai capres-cawapres pada Pilpres 2019, Jumat siang kemarin.

  • PAN Sebut Koalisi Jokowi Kena Jebakan Betmen karena Pilih Ma'ruf Amin
  • Ini yang Buat PAN Optimistis Prabowo-Sandiaga Mampu Gaet Emak-Emak
  • Andi Arief Ungkap Detik-Detik Adanya Mahar di Balik Duet Prabowo-Sandi

Bersama kader empat partai pendukung dan para relawan, keduanya menuju Gedung KPU. Pimpinan parpol pendukung turut menyertai, termasuk Ketua Kogasma Demokrat Agus Harimurti Yudhoyo no (AHY) dan pengurus teras Partai Berkarya Titiek Soeharto.

Sementara itu, usai ditetapkan sebagai cawapres Jokowi, Ma'ruf Amin langsung bergerak. Dia melakukan silaturahmi politik ke Partai PKB. Pertemuan antara Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar dan Ketua PBNU itu berlangsung hangat.

Selanjutnya, Ma'ruf Amin menyambangi DPP Partai Golkar di kawasan Slipi dan ke DPP PPP di Jalan Diponegoro. Dalam kunjungan ketiga markas Parpol Koalisi Indonesia Kerja, cawapres Ma'ruf Amin menyampaikan terima kasih telah mendukungnya untuk mendampingi Jokowi pada Pilpres 2019.

Di sisi lain, para elite koalisi partai politik pendukung Prabowo - Sandiaga, Jumat malam, 10 Agustus kemarin menggelar pertemuan di kediaman Prabowo Subianto di Jalan Kertanegara, Jakarta. Mereka membahas persiapan pembentukan tim pemenangan.

"Artinya bukan rapat, hanya usulan-usulan agenda terkait persiapan tim pemenangan kampanye nasional," ujar Ketua DPP Partai Gerin dra.

Namun demikian, detail pembahasan akan dilakukan bersama seluruh partai pengusung dalam waktu dekat. (Ridho Insan Putra)

Sumber: Google News

thumbnail

On 3:58 AM

Politisi Nasdem: Yang Dialami Mahfud MD, Hal Biasa di Politik

Pilpres 2019

Politisi Nasdem: Yang Dialami Mahfud MD, Hal Biasa di Politik

Dalam politik itu bisa mati berkali kali, karena itu ketika seseorang mau masuk ke politik mereka harus siap mati

Politisi Nasdem: Yang Dialami Mahfud MD, Hal Biasa di PolitikTheresia Felisiani/Tribunnews.comTaufiqulhadi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Banyak pihak menyayangkan Mahfud MD yang tidak terpilih menjadi cawapres dari Joko Widodo karena terganjal dua partai di koalisi.

Menurut ‎ Politisi Partai Nasional Demokrat (NasDem) Taufiqulhadi apa yang dialami oleh Mahfud MD ‎merupakan hal yang biasa di dunia politik.

‎"Dalam politik itu b isa mati berkali kali, karena itu ketika seseorang mau masuk ke politik mereka harus siap mati dan siap untuk bangkit kembali," kata Taufiqulhadi dalam diskusi bertema : Kejutan Capres-Cawapres, Sabtu (11/8/2018) di Menteng, Jakarta Pusat.

Taufiqulhadi menyatakan Mahfud sendiri telah memahami situasi dan posisinya. Soal tidak terpilihnya Madfud, Taufiqulhadi juga merasa kecewa.

Bahkan diungkap Taufiqulhadi, Mahfud sebetulnya sudah melihat adanya indikasi dirinya tidak dipilih ketika komunikasi yang dijalin tidak berjalan dengan baik dengan partai yang dimaksud.

Taufiqulhadi menilai komunikasi dengan semua partai yang ada sudah terbangun dengan baik, namun yang belum terselesaikan komunikasinya dengan Golkar maupun PKB. Oleh sebab itu Mahfud sudah tidak mempersoalkan hal tersebut.

Penulis: Theresia Felisiani Editor: Johnson Simanjuntak Ikuti kami di Isu Mahar Rp3 Triliun dari Kubu Jokowi Dibahas Ahmad Dhani, Gibran Balas Singkat tapi Menohok Sumber: Google News

no image

On 10:28 PM

Prabowo pilih Sandiaga, Jokowi pilih Ma'ruf, kompromi politik? Ini ...

Kandidat presiden Indonesia yang akan bertarung pada pemilihan presiden tahun depan baru-baru ini mengumumkan siapa pendamping mereka, setelah berbulan-bulan penuh spekulasi.

Para ahli mengatakan, nama yang muncul adalah hasil kompromi politik para elite politik yang mengabaikan harapan publik dan hasil survei.

Petahana Joko “Jokowi” Widodo, yang mendukung isu pluralisme dan pergerakan hak asasi manusia dalam pemilu 2014, secara dramatis justru memilih calon wakil presiden dari golongan konservatif yakni Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Ma'ruf Amin.

Pengangkatan Ma'ruf mengejutkan banyak orang karena banyak yang mengira Jokowi akan memilih Mahfud MD, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi yang juga pluralis Islam sebagai pasangannya.

Di sisi lain, lawan Jokowi, mantan anggota militer Prabowo Subianto akan maju dengan pengusaha yang terjun ke politik yakni Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno.

Penunjukan Sandiaga tidak kalah mengejutkan. Sebelumnya, Prabowo bertemu dengan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tentang kemungkinan membentuk koalisi dan mencalonkan anak SBY, Agus Harimurti Yudhoyono sebagai pendamping Prabowo.

Kami menanyakan para ahli untuk menjelaskan apa yang terjadi di balik keputusan mendadak ini.

Kompromi elite partai

Burhanuddin Muhtadi, Pengajar bidang pemilihan umum (Pemilu) dan perilaku pemilih di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Jokowi memilih Ma'ruf sebagai kompromi atas tuntutan partai-partai koalisinya. Saat ini Jokowi telah didukung oleh koalisi yang terdiri dari 9 partai, termasuk di dalamnya para pemain lama yakni, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Partai Golkar, dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Ma'ruf yang telah berumur tujuh puluh lima tahun dipilih karena soso k nya yang mungkin diterima oleh partai koalisi sebagai pasangan Jokowi. Mengingat usia tuanya, Ma'ruf tidak akan menjadi ancaman bagi mereka dalam pemilu 2024 mendatang.

Berbeda dengan Ma'ruf, Mahfud yang berusia lebih mudaâ€"61 tahunâ€"dapat menjadi ancaman potensial untuk partai politik (parpol) besar dalam pemilu selanjutnya. Pencalonan Mahfud sebagai wakil presiden dapat membuka jalan baginya untuk maju sebagai presiden dalam pemilu 2024 mendatang, sesuatu yang ingin dihindari oleh beberapa parpol. Jika Jokowi memilih Mahfud, dia akan menanggung risiko kehilangan dukungan Golkar.

Sementara itu, Prabowo memilih Sandiaga sebagai jalan keluar dari jalan buntu antara partai koalisi nya mengenai siapa calon wakil presiden yang tepat untuk mendampinginya. Sandiaga adalah pilihan aman di tengah ketegangan antara Partai Demokrat (PD) yang menginginkan putra Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai pasangan calon Prabowo, dengan Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang menawarkan calon lain di luar partai politik yang lebih netral untuk mendapatkan suara lebih banyak.

Calon wakil presiden yang tepat untuk Jokowi sebenarnya Mahfud. Hasil survei menunjukkan bahwa elektabilitasnya lebih tinggi dibandingkan dengan kandidat lainnya. Sosoknya diterima oleh semua pemilih muslim. Pengalaman Mahfud dalam pemerintahan juga mampu menambal kekurangan pemerintahan Jokowi dalam agenda hukum dan anti korupsi.

Sementara itu, pasangan sempurna untuk Prabowo seharusnya adalah Agus. Agus dapat menarik para pemilih muda. Berdasarkan hasil survei, elektabilitasnya lebih tinggi dibandingkan Sandiaga. Tetapi, pada akhirnya, para elit politiklah yang menentukan calon wakil presiden Jokowi dan Prabowo.

Hal positif utama dari Ma'ruf bagi Jokowi adalah bahwa ia menghancurkan kemungkinan koalisi ketiga yang dapat mengurangi kemungkinan Jokowi menang.

Kedua, latar belakang kuat Ma'ruf sebagai p emimpin muslim diharapkan dapat melindungi Jokowi dari kampanye hitam yang menggunakan agama yang dilakukan oleh saingannya pada pemilihan umum sebelumnya. Pada pilpres 2014, kubu Prabowo melabeli Jokowi sebagai pemimpin yang kurang Islami karena agenda pluralismenya.

Jokowi dikenal tidak populer di kalangan pemilih muslim karena pendekatan otoriternya terhadap kaum konservatif Muslim selama pemerintahannya kemarin. Untuk itu, penunjukan Ma'ruf diharapkan dapat mempengaruhi para pemilih muslim.

Meskipun demikian, Ma'ruf mungkin juga dapat merusak elektabilitas Jokowi di kalangan pendukung dari kelompok minoritas. Ma'ruf adalah salah seorang tokoh yang menyebabkan mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama dipenjara karena kasus penodaan agama.

Sementara itu, kekuatan Sandiaga terletak pada latar belakang usia yang relatif muda yang diharapkan dapat mempengaruhi para pemilih milenial. Sebagai seorang pengusaha sukses, San diaga mungkin juga menguntungkan Prabowo dalam hal dukungan keuangan untuk kampanye.

Antisipasi dari Jokowi

Nyarwi Ahmad, Direktur Presidential Studies di Departemen Pusat Penelitian Media Digital dan Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Gadjah Mada

Pencalonan Ma'ruf adalah bagian dari langkah taktis Jokowi untuk menarik pemilih muslim. Tampaknya Jokowi ingin mencegah terulangnya perang yang sama yang dilakukan Prabowo pada pemilihan sebelumnya.

Ma'ruf dipilih karena dia telah dianggap sosok yang paling aman oleh pihak lain dalam koalisi Jokowi. Partai politik lainnya menerima pencalonan Ma'ruf karena ia tidak akan menjadi ancaman baru dalam pemilihan 2024 nanti.

Pengalaman Ma'ruf yang banyak di lembaga legislatif, pemerintahan dan organisasi Muslim diharapkan dapat memaksimalkan mesin politik Jokowi untuk memenangkan pemilihan.

Meski pun begitu, latar belakang Ma&# 039;ruf tampaknya tidak cocok dengan sesuai dengan figur nasionalis Jokowi. Dengan kata lain, co-branding Jokowi dan Ma'ruf di kalangan pemilih tidak cukup solid. Jokowi mungkin perlu membuat strategi untuk meyakinkan pemilih bahwa dia dan pasangannya mendukung agenda yang sama.

Penunjukan Sandiaga juga merupakan kompromi politik. Penunjukan Sandiaga adalah strategi Prabowo untuk memastikan bahwa koalisinya akan tetap utuh.

Keputusan Prabowo untuk memilih Sandiaga karena dia melihat sosok Sandiada yang bertolak belakang dengan Ma'ruf. Sandiaga adalah seorang pemuda dan pebisnis profesional. Hal ini bisa mendongkrak popularitas Prabowo di kalangan pemilih muda. Para pemilih muda dengan jumlah total 70 juta pemilih atau sepertiga dari pemilih Indonesia adalah kuncimemenangkan pemilihan berikutnya.

Penunjukan Sandiaga juga dapat memperkuat kampanye politik di belakang #2019GantiPresiden yang diluncurkan oleh kubu Prabowo. Citra muda dan profe sional Sandiaga akan menjadi antitesis sempurna bagi citra lama dan birokrat Jokowi.

Prabowo juga memilih Sandiaga lebih dari kandidat lain karena koneksi bisnisnya yang dapat menjadi sumber keuangan yang besar untuk mendukung kampanye.

Ma'ruf sasar pemilih Muslim, Sandi incar milenial

Arya Fernandes, peneliti Centre for Strategic and International Studies (CSIS)

Perubahan skenario politik dalam pencalonan wakil presiden menunjukkan upaya pasangan calon untuk menjawab tantangan politik eksternal saat kampanye nanti.

Jokowi dihadapkan pada situasi harus berkompromi dengan partai politik dan kekuatan politik eksternal, seperti Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Posisi beberapa partai politik, terutama PKB, yang tidak menerima nama Mahfud MD membuat Jokowi berpikir ulang. PKB mengancam akan keluar dari koalisi bila nama Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar tidak dipilih Jokowi. Selain itu desakan PBNU agar Jokowi memilih kader NU dan memberikan peringatan keras bahwa Mahfud bukanlah representasi dari NU juga membuat posisi Jokowi bimbang.

Pilihan kepada Ma’ruf Amin bisa dilihat dalam dua perspektif, pertama, akomodasi politik Jokowi kepada partai koalisi dan kekhawatiran berubahnya dukungan partai, terutama kemungkinan terbentuknya Poros Ketiga, yang bisa saja menganggu suara Jokowi dalam pemilu. Kedua, respons terhadap kondisi politik eksternal terutama kekhawatiran Jokowi pada menguatnya politik identitas yang akan menggerus suara Jokowi. Ketakutan Jokowi dipersepsikan tidak ramah dengan kelompok pemilih Muslim juga membuat Jokowi akhirnya harus menerima nama Ma’ruf. Sebagai Ketua Umum MUI, Ma’ruf diharapkan Jokowi dapat menetralkan isu negatif terkait politik identitas.

Sementara, pilihan Prabowo Subianto kepada Sandiaga Uno juga menunjukkan mulai terjadinya perubahan narasi kampanye Prabowo. Bila Prabowo masih menggunakan narasi lama, sepertinya a kan susah bersaing dengan Jokowi. Bila narasi kampanye Prabowo-Sandiaga berubah, misalnya pro investasi, pro pasar, pro toleransi, Jokowi akan kesulitan memenangkan pemilu.

Nama Sandiaga yang menguat pada menit akhir menunjukkan kemampuannya berunding dan lobi politik pada waktu yang krusial di tengah deadlock politik internal. Sandiaga mampu membaca kebuntuan politik menjelang penetapan calon wakil presiden, karena beberapa partai koalisi tidak sepenuhnya menyetujui nama Salim Assegaf dan Agus.

Pertimbangan Prabowo memilih Sandiaga, selain sebagai jalan tengah, juga karena mewakili elite politik baru yang berasal dari kalangan pengusaha-profesional, yang diharapkan mampu mengelola isu-isu ekonomi.

Pertimbangan lainnya adalah Sandiaga diharapkan bisa menarik suara dari kelompok milenial, pemilih pemula, perempuan, dan ibu rumah tangga.

Mengabaikan pemilih perempuan dan pemuda

Ella S. Prihatini, penerima beasiswa Endeavour d an kandidat PhD dari University of Western Australia

Kandidat presiden dan wakil presiden menunjukkan gagalnya regenerasi dalam proses demokrasi di Indonesia. Petahana berdampingan dengan ulama yang berusia 75 tahun. Prabowo juga memilih tokoh politik yang sudah memegang kekuasaan di pemerintahan sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta.

Pilihan-pilihan yang dibuat kandidat presiden jelas menunjukkan bahwa para kandidat mengabaikan kelompok-kelompok besar di populasi pemilih tapi sering tidak terwakilkan: perempuan dan generasi muda.

Jumlah perempuan setengah dari populasi nasional. Tetapi mereka tidak diwakili dalam pasangan calon saat ini. Pemilu saat ini masih didominasi oleh laki-laki, lebih khusus lagi laki-laki di atas usia 45 tahun.

Pencalonan pasangan presiden dan wakil presiden ini menunjukkan pentingnya revisi aturan syarat minimal usia untuk menjadi caleg (calon legislatif). UU Pemilu mengatur seseorang minimal berusia 21 tahun untuk b isa maju menjadi caleg, sedangkan syarat jadi pemilih adalah 17 tahun. Kenapa ada jurang pemisah ini? Bila usia 17 tahun dianggap sudah cukup bertanggung jawab atas pilihan politikâ€"maka diizinkan untuk memilihâ€"lantas kenapa tidak dianggap pantas untuk dipilih?

Jika kita lihat batas minimal usia caleg di negara lain seperti Australia dan Jerman, mereka yang [berusia 18 tahun]sudah bisa mendaftarkan dirinya untuk maju dan turut serta dalam pencalonan anggota parlemen tingkat nasional. Hal ini bisa menjadi salah satu strategi untuk memupuk bibit-bibit politisi yang lebih muda dan lebih mewakili populasi pemilih.

Sumber: Google News

thumbnail

On 10:28 PM

5 Cara unik Gibran respons isu politik, selalu sukses bikin tawa pecah

Aliftya Amarilisya 11 Agustus 2018 10:01 5 Cara unik Gibran respons isu politik, selalu sukses bikin tawa pecah

Gaya super cueknya patut diacungi jempol. Malah warganet yang emosi, Gibran mah selow aja ~

Brilio.net - Menjadi anak orang nomor satu di Indonesia, membuat nama Gibran Rakabuming Raka tak lagi asing di telinga masyarakat. Laiknya selebritis setiap tindak-tanduknya pun diperhatikan dengan seksama oleh banyak orang. Nah, salah satu hal yang menjadi ciri khas dari Gibran ini adalah sikapn ya yang cuek, terlebih jika dihadapkan pada perihal politik.
Namun, di balik ketidakacuhannya tersebut, kakak dari Kaesang dan Kahiyang ini sebetulnya suka bercanda lho. Nggak jarang kok, dirinya ikut merespon isu-isu politik yang tengah panas dengan gaya santai dan nyeleneh. Alhasil, publik pun berhasil dibuat tertawa olehnya.
Penasaran dengan cara-cara unik Gibran dalam merespon isu politik ini? Berikut beberapa cara unik Gibran menanggapi isu politik, seperti dilansir brilio.net dari berbagai sumber, Sabtu (11/8). Simak, yuk!
1. Jenderal Kardus.

Keributan soal 'Jenderal Kardus' justru dimanfaatkan Gibran untuk promosi desain kardus Markobar yang baru.

Kardus tersebut dilengkapi dengan desain board game dan dadu yang bisa dimainkan oleh 4 orang.
2. Isu cawapres Jokowi.

Cara Gibran menanggapi harapan netizen terkait calon cawapres Jokowi tempo hari pun nggak kalah nyeleneh.
< strong>3. Demo #2019GantiPresiden di depan Markobar.

Ketika salah satu outlet martabaknya di Solo didatangi oleh pengunjuk rasa #2019GantiPresiden, Gibran justru 'menyambut' mereka dengan cuitan yang nyeleneh nan kocak.
4. Disindir karena tak ingin jadi politisi.

Berbeda dengan AHY yang mengikuti jejak sang ayah sebagai politisi, Gibran lebih tertarik mengikuti jejak Jokowi sebagai pengusaha. Warganet pun menyindir pilihan Gibran tersebut. Namun, seperti biasa, ia menanggapinya dengan santai.
5. Ketika Jokowi menjadi imam salat.

Alih-alih terbawa emosi marah, Gibran justru terlihat 'memuji' warganet yang berkomentar ketika ayahnya menjadi imam dan makmum saat menunaikan ibadah salat zuhur dan asar di Afghanistan.

(brl/gib)

YOU MAY ALSO LIKE

Mengatasi Sendiri Mobil Matic Yang Mogok
Jangan panik saat mobil matic-mu mogok! Kamu bisa ikuti tips di bawah ini.
More Videos
Pilih Reaksi Kamu
  • Senang

    0%

  • Ngakak!

    0%

  • Wow!

    0%

  • Sedih

    0%

  • Marah

    0%

Share This Article

To:

Cc:

Subject:

5 Cara unik Gibran respons isu politik, selalu sukses bikin tawa pecah.
Gaya super cueknya patut diacungi jempol. Malah warganet yang emos i, Gibran mah selow aja ~
https://www.brilio.net/sosok/5-cara-unik-gibran-respons-isu-politik-selalu-sukses-bikin-tawa-pecah-180810k.html SEND Mau artikelmu dibaca jutaan orang?
Yuk nulis di Brilio Creator

Yuk Gabung Sekarang
Untuk dapetin uang tunai
dari hobi menulismu

Ikutan Disini

WHAT DO YOU THINK

Sumber: Google News

thumbnail

On 5:12 AM

Haykal Kamil Ogah Komentar Soal Politik di Media Sosial, Ini ...

Haykal Kamil Ogah Komentar Soal Politik di Media Sosial, Ini Alasannya

Haykal Kamil rupanya mengikuti situasi politik di Indonesia melalui pemberitaan di media massa.

Haykal Kamil Ogah Komentar Soal Politik di Media Sosial, Ini AlasannyaNOVAHaykal Kamil

TRIBUNNEWS.COM - Haykal Kamil mengikuti situasi politik di Indonesia lewat pemberitaan. Namun, ia tak mau mengungkapkan pandangan politiknya ke sosial media.

Demikian dikatakannya usai jumpa pers Peluncuran Kampanye Anti Pembajakan Film yang dilaksanakan di XXI Plaza Indonesia, Selasa (7/8/2018).

"Iya cukup kritis sama politik. Tapi enggak pernah gua publish. Karena sekarang ka n situasinya cukup panas. Lagi pula kan enggak ada urusannya sama gua," kata Haykal.

"Sekarang kan gua bisnis dan jualan tanpa harus dibeli dengan golongan. Jadi, buat gua enggak perlulah komentar di sosial media," sambungnya.

Haykal menyadari sebagai publik figur, setiap ucapannya bisa memengaruhi pandangan orang lain.

Itu alasan mengapa adik kandung aktris Zaskia Adya Mecca itu enggan mengungkapkan komentarnya tentang politik Indonesia.

"Itu sangat berpengaruh sih. Karena kan mereka pasti punya followers dan bisa mengikuti apa katanya. Kalau positif yang disebarin sih enggak apa-apa," ujar Haykal.

"Kalau berbau emosional kan jadi parah. Dan itu yang buat gua enggak mau, kerena gua belum bisa buat kata-kata yang tepat untuk politik," tambahnya.

Meski pernah mendapat tawaran, Haykal mengaku tidak tertarik untuk terjun ke dunia politik. "Pernah ditawarin sih. Tapi gua belum tertarik, s ekarang lagi pengen fokus bisnis aja," tutur Haykal.

"Gua sekarang mau jadi warga negara biasa aja dulu. Kalau gua berpartisipasi politik aja dengan memilih, kalau dikasih hak memilih. Dan gua nyuruh keluarga semua pada milih juga," imbuhnya.(*)

Berita ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Haykal Kamil Enggan Unggah Pandangan Politiknya ke Sosial Media"

Editor: Willem Jonata Sumber: Kompas.com Ikuti kami di Bawaslu Telusuri Dugaan Mahar RP 500 M, Prabowo - Sandiaga Uno Terancam Batal Maju Pilpres 2019 Sumber: Google New s

thumbnail

On 5:12 AM

Pusaran Politik di Sekitar AHY di Ulang Tahun Ke-40

  1. Pusaran Politik di Sekitar AHY di Ulang Tahun Ke-40 KOMPAS.com
  2. Ucapkan Selamat kepada Prabowo-Sandi, Demokrat Akan ... Tribunnews
  3. Awalnya Ogah Masuk Politik, Sandiaga Kepincut dengan Prabowo ... Tribun Lampung
  4. Demokrat Duga Politik Transaksional Dipraktikkan Gerindra Republika Online
  5. Full coverage
Sumber: Google News