www.AlvinAdam.com

Obor Rakyat Indonesia

Kategori

Subcribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

thumbnail

On 4:24 AM

Pemuda Muhammadiyah Kritik Partai Politik Daftarkan Eks Napi ...

Pemilu 2019

Pemuda Muhammadiyah Kritik Partai Politik Daftarkan Eks Napi Koruptor Jadi Caleg 2019

Masalah sulit dan tidak sulit, kan masalah Komitmen Partai Politik terhadap praktik korupsi

Pemuda Muhammadiyah Kritik Partai Politik Daftarkan Eks Napi Koruptor Jadi Caleg 2019Tribun-Video.comDahnil

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah mengkritik masih nekatnya Partai Politik mengajukan mantan narapidana kasus korupsi menjadi Calon Legislatif 2019.

Dahnil Anzar Simanjuntak, Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah dan Pendiri Madrasah Antikorupsi menegaskan, ini masalah komitmen partai politik terhadap agenda b esar pemberantasan korupsi di negeri ini.

"Masalah sulit dan tidak sulit, kan masalah Komitmen Partai Politik terhadap praktik korupsi," ujar aktivis antikorupsi ini kepada Tribunnews.com, Kamis (19/7/2018).

Bila, toleransinya masih tinggi sekali, bahkan sangat terbuka terhadap mantan-mantan koruptor, imbuhnya, ya pasti sulit sekali untuk tidak menerima para mantan koruptor menjadi Caleg.

Berbeda bila Partai Politiknya memang berusaha untuk terus memperbaiki kualitas dan integritas Calegnya.

"Bila itu maka menganulir caleg-caleg mantan koruptor adalah pekerjaan yang mudah dan sederhana," tegasnya.

Diantara Caleg eks napi korupsi yang masih maju adalah dua mantan narapidana kasus korupsi dalam daftar bakal calon legislatif 2019 DPR RI dari partai Golkar. Ke dua nama tersebut yakni Teuku Muhammad Nurlif dan Iqbal Wibisono.

Hal itu pun dibenarkan Ketua bidang Komunikasi, Media, dan Penggalangan Opini Golkar Ace Hasan Syadzil y, di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (19/7/2018).

Berdasarkan catatan, Teuku Muhammad Nurlif terlibat dalam kasus suap travel cek pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Miranda Goeltom 2004 silam. Saat itu Nurlif menjabat anggota Komisi keuangan dan Perbankan DPR RI. Akibat perbuatannya Ia telah divonis 1 tahun 4 bulan penjara.

Sementara itu Iqbal Wibisono terbukti terlibat korupsi dana Bansos untuk Kabupaten Wonosobo di Provinsi Jateng 2008 silam. Akibat perbuatannya tersebut, ia juga telah divonis satu tahun penjara.

Halaman selanjutnya 12
Penulis: Srihandriatmo Malau Editor: Johnson Simanjuntak Ikuti kami di Sempat akan Bocorkan Nama Cawapres, Kaesang Pangarep Ditegur Jokowi Sumber: Google News

no image

On 4:23 AM

Diperlukan Anti Virus Politik dan Budaya

Tribunners / Citizen Journalism

Diperlukan Anti Virus Politik dan Budaya

Tekanan arus globalisasi tidak hanya menyentuh dunia ekonomi atau lapangan usaha, tetapi terus menjalar menekan berbagai sendi kehidupan masyarakat.

Ditulis oleh Bambang Susilo,

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Tekanan arus globalisasi tidak hanya menyentuh dunia ekonomi atau lapangan usaha, tetapi terus menjalar menekan berbagai sendi kehidupan masyarakat.

Sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara yang meliputi ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan (ipoleksosbudhankam) sungguh terasa sakit oleh dahsyatnya tekanan arus globalisasi. Kita tidak bisa menghindar dari tekanan itu karena globalisasi adalah sebuah keniscayaan.

Baca: Hampir Bocorkan Nama Cawapres yang Akan Dampingi Sang Ayah, Kaesang Pangarep Kena Tegur

Sakitnya kehidupan politik dan budaya serta dampak buruk dari kebebasan berekspresi melalui media massa khususnya media massa elektronik (TV dan sosmed) merupakan faktor yang melatarbelakangi diperlukannya “anti virus” agar pengaruh buruk tersebut dapat dikendalikan.

Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dan stakeholder terkait harus mampu berbuat untuk itu.

Baca: Semester I 2018, Kredit BTN Tumbuh 19,14 Persen

Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) adalah lembaga negara yang lahir berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 Tentang Penyiaran.

Lembaga negara yang bersifat independen ini bertugas mengemban amanah untuk mewadahi aspirasi serta mewakili kepentingan masyarakat akan penyiaran.

Virus Politik

Hiruk pikuk kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini terpusat di panggung politik. Melalui media massa elektronik dan Medsos, masyarakat disuguhkan kegaduhan politik. Sesungguhnya kegaduhan ini tidak bisa dianggap “sepele” dengan dalih kewajaran tahun politik.

Keengganan para tokoh politik dan pemangku kepentingan untuk menjadikan demokrasi terpimpin dan demokrasi Pancasila sebagai sistem politik (demokrasi) seperti yang pernah digunakan oleh rezim Orde Lama dan Orde Baru ternyata menyengsarakan sistem politik yang dimainkan oleh barisan sakit hati dan frustasi, dan para oportunis politik pragmatis.

Halaman selanjutnya 1234
Editor: Samuel Febrianto Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com Ikuti kami di Sempat akan Bocorkan Nama Cawapres, Kaesang Pangarep Ditegur Jokowi Sumber: Google News

thumbnail

On 4:23 AM

Merasa Tak Muda Lagi, Nafa Urbach Anggap Sudah Waktunya ...

Merasa Tak Muda Lagi, Nafa Urbach Anggap Sudah Waktunya Terjun ke Politik

Nafa Urbach (38) angkat bicara seputar dirinya yang mendaftarkan diri menjadi calon anggota legislatif (caleg) dalam Pemilihan Umum (Pemilu) 2019.

Merasa Tak Muda Lagi, Nafa Urbach Anggap Sudah Waktunya Terjun ke Politik/Penyanyi sekaligus aktris Nafa Urbach berikan keterangan mengenai rencana menjadi calon legislatif (caleg) pada pemilu serentak 2019 mendatang dari Partai Nasional Demokrat (Nasdem) di SCBD, Jakarta Selatan, Senin (4/6/2018). Rencananya ia akan maju untuk daerah pemilihan Jawa Tengah. TRIBUNNEWS.COM/LENDY RAMADHAN

TRIBUNNEWS.COM - PESINETRON sekaligus penyanyi Nafa Urbach (38) angkat bicara seputar dirinya yang mendaftarkan diri menjadi calon anggota legislatif (caleg) dalam Pemilihan Umum (Pemilu) 2019.

Nafa sudah mendaftarkan diri ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) dari Partai Nasional Demokrat (Nasdem), yang juga memiliki 24 selebritas lainnya yang mendaftarkan diri menjadi caleg.

Ketika ditemui dalam press screening dan conference film 'Buffalo Boys' di CGV Grand Indonesia, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Rabu (18/7/2018), Nafa menjelaskan alasan dirinya berpolitik.

"Aku kan juga udah enggak muda lagi. Jadi aku pengen masuk ke politik di waktu yang tepat ini," kata Nafa Urbach.

Nafa mengaku mengincar bangku Komisi VIII, untuk mengurusi bidang Pemberdayaan Perempuan, Anak, Kesehatan, dan Pendidikan.

"Iya (caleg) aku dari Nasdem dan sekarang ini aku lagi di Daerah Pemilihan (Dapil) VI, karena memang Dapil aku. Doain aja ya," ucapnya.

Baca: Lagi Bahagia Didampingi Na fa Urbach, Zack Lee Ogah Bahas Perceraian

Mantan istri aktor Zack Lee (33) itu angkat bicara mengapa dirinya gabung dengan Nasdem. Menurutnya, partai politik yang dipimpin oleh Surya Paloh itu tak meminta mahar politik.

"Nasdem itu tanpa mahar, aku aja enggak bayar apa pun juga. Itu juga cita-cita aku dari dulu," ucapnya.

Nafa menuturkan, sebelum bergabung dengan Nasdem, ia mengambil pendidikan seputar politik. Ke depannya, ia akan melanjutkan pendidikan untuk bekalnya di kursi legislatif.

"Rencananya aku akan lanjut kuliah lagi tahun depan. Rencananya mau ambil jurusan hukum di Universitas Indonesia," ungkap Nafa Urbach. (Wartakotalive/Arie Puji Waluyo)

Editor: Anita K Wardhani Sumber: Warta Kota Ikuti kami di Sempat akan Bocorkan Nama Cawapres, Kaesang Pangarep Ditegur Jokowi Sumber: Google News