www.AlvinAdam.com


Subcribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Informasi: Selingkuh dan Media Sosial Jadi Pemicu Tingginya Angka Perceraian di Bekasi

Posted by On Oktober 03, 2017

Selingkuh dan Media Sosial Jadi Pemicu Tingginya Angka Perceraian di Bekasi

Foto : Ilustrasi (ist)

Selingkuh dan Media Sosial Jadi Pemicu Tingginya Angka Perceraian di Bekasi

Ind |&nbspSelasa , 03 Oktober 2017 - 20:35 WIB

Publicapos.com- Kasus perselingkuhan dan media sosial jadi pemicu tingginya angka perceraian di Kota Bekasi. Faktor pemicu perceraian terbanyak adalah perselingkuhan, yaitu sebanyak 1.862 kasus. Dari banyaknya perceraian itu, pemicu utama dimulai dari maraknya media sosial yang dipakai para suami-istri.
Hal itu terangkum berdasarkan data Pengadilan Agama (PA) Kota Bekasi, sebanyak 2.231 pasangan bercerai sepanjang Januari-September 2017. Setelah selingkuh, disusul faktor ekonomi sebanyak 111 kasus dan faktor poligami 121 kasus.
"Beberapa tahun lalu kasus perceraian dipicu karena faktor ekonomi, kini berubah akibat penggunaa n sosmed. fakta (akibat medsos) seperti pengaruh SMS, WhatsApp, dan jejaring sosial lainnya. Hampir 80 persen dari kasus perselingkuhan," papa pejabat humas Pengadilan Agama Kota Bekasi, Jazilin, Selasa (3/10/2017).
Jazilin mengungkap mayoritas gugatan cerai itu diajukan wanita. Gugatan berawal dari rasa curiga terhadap suaminya yang ditengarai berselingkuh. "Biasanya salah satu pihak, baik laki atau perempuan, begitu handphone-nya tidak boleh dilihat oleh pasangannya, akhirnya ketahuan," cerita Jazilin.
Perceraian karena medsos diduga marak sejak ponsel pintar laris manis di pasar. "Karena sebetulnya baik laki-laki maupun perempuan tidak berani ngomong langsung, sehingga mereka lihat dulu di medsos sampai berlanjut kopi darat," tutur Jazilin.
"Setelah ngobrol tak kenal waktu. Kemudian akhirnya merasa nyaman, dan berujung selingkuh dari pasangan masing-masing," tambahnya.
Dia meminta para pasangan bisa menggunakan sosmed dengan bija ksana, sehingga keberadaannya berdampak positif untuk masyarakat. "Sosmed merupakan sarana komunikasi yang sangat efektif bila dimanfaatkan dengan baik, namun penggunanya harus dibekali pengetahuan dan iman yang kuat," jelasnya.
Ia juga mengimbau, kebiasaan komunikasi pasangan suami-istri secara langsung kembali ditingkatkan sehingga tidak ada prasangka curiga di antara kedua belah pihak. "Sebab, jika hal ini tidak dikontrol dengan baik, bisa fatal. Terutama bagi suami dan istri, jaga baik-baik etika komunikasi lewat sosmed. Jangan sampai kebablasan dengan wanita atau laki-laki lainnya," katanya.

Sumber: Google News

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »